Di sinilah negara, sekolah, dan penyelenggara pendidikan harus hadir. Negara tidak boleh absen ketika anak menghadapi ketidakadilan di ruang publik.
Sekolah harus menjadi tempat pertama yang melindungi keberanian moral itu. Guru dan orang tua perlu mengajarkan bahwa membela kebenaran bukanlah sikap melawan demi ego, melainkan bentuk kedewasaan.
Jika anak seperti ini malah dipersekusi, maka kita sedang mengirim pesan yang keliru: bahwa yang penting bukan benar atau salah, melainkan siapa yang punya kuasa.
Yang lebih memprihatinkan, juri, panitia, bahkan pembawa acara ikut mempermalukan anak di depan umum, maka itu bukan sekadar kesalahan teknis.
Itu adalah kegagalan etika. Dalam ruang pendidikan, mempermalukan anak di hadapan publik adalah bentuk kekerasan simbolik.