Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M.AP

Akademisi UIN STS Jambi

 

 

Tidak sulit memahami mengapa tulisan tentang kemiskinan selalu mudah menarik perhatian publik. Kemiskinan menyentuh sisi paling sensitif dalam kehidupan social, rasa aman, harapan hidup dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Karena itu, ketika sebuah tulisan menyebut angka penduduk miskin meningkat, publik cenderung segera membentuk kesimpulan bahwa pemerintah pasti sedang gagal.

 

Di titik inilah disiplin intelektual menjadi penting. Sebab data statistik tidak dapat dipahami secara parsial, apalagi digunakan sebagai alat legitimasi untuk membangun kesimpulan politik yang telah ditentukan sejak awal. Dalam analisis kebijakan publik, data seharusnya berfungsi sebagai instrumen untuk memahami realitas sosial secara objektif, bukan sebagai fragmen informasi yang dipilih secara selektif demi memperkuat arah opini tertentu.

 

Tulisan berjudul “Kemiskinan Terus Meningkat, Ironis Kepemimpinan Gubernur Al Haris” tampak seperti kritik sosial terhadap kondisi ekonomi daerah. Namun jika dibaca secara metodologis, tulisan tersebut lebih menyerupai praktik selective framing, yakni memilih sebagian data tertentu untuk membangun narasi politik tertentu, sambil mengabaikan konteks statistik yang lebih utuh.