Keempat, yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa pengembangan ekonomi di sekitar kawasan budaya tetap memperhatikan prinsip pelestarian warisan budaya. KCBN Muarajambi merupakan salah satu situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai sejarah tinggi. Oleh karena itu, pengembangan UMKM dan pariwisata harus dirancang dalam kerangka ekonomi berbasis konservasi (conservation-based economy), sehingga peningkatan aktivitas ekonomi tidak justru mengancam kelestarian situs budaya tersebut.

Dalam konteks ini, kajian dampak ekonomi yang dilakukan seharusnya tidak hanya mengukur kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara makro, tetapi juga melihat bagaimana distribusi manfaat ekonomi tersebut dirasakan oleh masyarakat desa secara langsung. Indikator seperti peningkatan pendapatan rumah tangga, penciptaan lapangan kerja lokal, serta penguatan ekonomi desa menjadi parameter penting yang perlu diperhatikan.

 

Dengan demikian, diseminasi dalam bentuk opini surat kabar ini diharapkan tidak berhenti pada pemaparan hasil penelitian semata, tetapi juga menjadi ruang dialog antara akademisi, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan pengelola kawasan budaya untuk merumuskan strategi pengembangan ekonomi kawasan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Semoga.