Mahasiswa UTM Galakkan Aksi Anti-Bullying di Desa Ponteh, Wujudkan Sekolah Ramah Anak di Pamekasan
Kamis, 1 Januari 1970 | 07:00 WIB
Foto: Dokumentasi Transtu.id
Transatu.id, Pamekasan, — Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus menunjukkan kepedulian terhadap isu sosial di tengah masyarakat. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), mereka menggelar seminar anti-bullying di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan.
Kegiatan ini berlangsung dalam dua gelombang, yakni 9 dan 11 Oktober 2025, dan melibatkan SDN Ponteh 1 serta SDN Ponteh 2. Dengan mengusung tema Menciptakan Sekolah Ramah Anak, Bebas Bullying, seminar tersebut menjadi langkah nyata mahasiswa UTM dalam menanamkan nilai empati dan kesadaran anti-kekerasan sejak dini di lingkungan sekolah.
Program ini dirancang agar pesan anti-bullying tidak hanya berhenti di siswa, tetapi juga menyentuh para guru sebagai pengawas utama di sekolah.
Pada gelombang pertama, kegiatan difokuskan di SDN Ponteh 1, kemudian dilanjutkan di SDN Ponteh 2 pada gelombang kedua. Pola dua hari tersebut dimaksudkan agar interaksi dan diskusi berlangsung lebih intens serta materi dapat benar-benar dipahami oleh peserta.
Menariknya, kegiatan ini menghadirkan Umarul Faruk, seorang psikolog anak yang membawakan materi secara interaktif. Ia menjelaskan berbagai bentuk perundungan — mulai dari verbal, fisik, siber hingga relasional — serta dampak psikologis jangka panjang yang bisa dirasakan korban.
“Bullying sering dianggap hal sepele, padahal dampaknya bisa menghancurkan kepercayaan diri dan masa depan anak. Pencegahan harus dimulai sejak dini, dari lingkungan sekolah,” tegas Umarul Faruk di hadapan peserta seminar.
Untuk para guru, Umarul menekankan pentingnya deteksi dini tanda-tanda bullying dan penyusunan protokol penanganan yang adil dan empatik. Sedangkan bagi para murid, sesi dirancang lebih santai dengan permainan edukatif dan diskusi ringan tentang pentingnya berempati, tidak diam saat melihat perundungan, serta berani melapor kepada guru atau orang tua.
Koordinator KKNT UTM Desa Ponteh mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mengedepankan pendidikan karakter di tengah masyarakat.
“Kami ingin menumbuhkan agen perubahan di sekolah. Guru kini punya bekal untuk mendeteksi bullying, dan siswa lebih berani speak up. Dari sekolah inilah, kami ingin Desa Ponteh bebas dari perundungan,” ujarnya.
Sementara itu, Samsuki Dosen Manajemen Universitas Trunojoyo Madura sekaligus penanggung jawab kegiatan KKNT Desa Ponteh, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif mahasiswa bimbingannya.
“Kegiatan ini tidak hanya mengedukasi masyarakat, tetapi juga melatih mahasiswa memahami dinamika sosial secara nyata. Mereka belajar bagaimana ilmu yang diperoleh di kampus bisa diterapkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan manusiawi,” tutur Samsuki.
Ia menambahkan, keberhasilan kegiatan ini diharapkan menjadi awal terbentuknya gerakan berkelanjutan di Desa Ponteh, di mana sekolah dan masyarakat bersama-sama membangun sistem perlindungan anak yang kuat dan ramah.
Inisiatif mahasiswa UTM ini menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat tidak melulu soal pembangunan fisik, melainkan juga tentang membangun mentalitas dan karakter warga. Melalui edukasi anti-bullying, mahasiswa UTM tidak hanya menebar pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di akar rumput.
UTM berharap kegiatan seperti ini bisa terus diperluas ke berbagai desa lain di Madura, sehingga gerakan “Sekolah Ramah Anak, Bebas Bullying” dapat menjadi budaya bersama dalam membentuk generasi muda yang sehat, berani, dan berempati.
Gubernur Al Haris Hadiri Entry Meeting BPK RI, Tegaskan Komitmen Transparansi Keuangan Daerah
Kakek Umur 100 Tahun Di Sumenep Meninggal Gantung Diri
Bank Jambi Akan Bertanggungjawab Saldo Nasabah Hilang