Muhaimin Iskandar Resmikan Dapur Gizi Nasional di Bangkalan, Target 1.000 Dapur untuk Santri Seluruh Indonesia
Kamis, 1 Januari 1970 | 07:00 WIB
Foto: Dokumentasi Transtu.id
TRANSATU, Bangkalan — Pemerintah secara resmi meluncurkan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) segmen pesantren di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura. Peluncuran ini menjadi tonggak awal dari pembangunan 1.000 dapur SPPG di pesantren-pesantren seluruh Indonesia sebagai bagian dari program nasional “Makan Bergizi Gratis”.
Acara peresmian ditandai dengan pemukulan bedug secara simbolis oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhaimin Iskandar, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, Direktur Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Ismed Saputra, serta Bupati Bangkalan Lukman Hakim.
Dalam sambutannya, Muhaimin Iskandar menyampaikan bahwa pembangunan dapur SPPG ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pondok pesantren, dan koperasi sebagai bagian dari strategi pemberdayaan komunitas.
“Pembangunan Dapur SPPG segmen pesantren ini akan memberikan multiple effect. Tidak hanya menyediakan makanan bergizi gratis bagi santri dan masyarakat sekitar, tapi juga memberdayakan pesantren sebagai pusat ekonomi komunitas,” ujar Muhaimin.
Ia menekankan bahwa program ini melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam ekosistem ekonomi pesantren—mulai dari petani, koperasi, pelaku usaha, hingga santri dan ulama. Target awalnya adalah menyediakan makanan bergizi untuk 3 juta santri, dengan asumsi 1.000 dapur mampu melayani 3.000 santri setiap hari.
"Di Pulau Madura, ditargetkan pembangunan 100 dapur SPPG, dan Pondok Pesantren Syaichona Kholil dipilih sebagai lokasi perdana karena nilai historisnya sebagai pusat pendidikan Islam tertua yang berperan dalam sejarah Nahdlatul Ulama," terangnya.
Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menyambut baik peluncuran program nasional ini di wilayahnya dan menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaannya.
“Kami menyambut baik dan menyatakan komitmen penuh untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan program SPPG ini di Bangkalan. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagian dari ikhtiar mencetak generasi masa depan yang sehat dan kuat,” ujarnya.
Lukman juga menegaskan bahwa program ini memiliki dampak luas, tidak hanya dalam aspek pemenuhan gizi, tetapi juga dalam pemberdayaan ekonomi lokal.
“SPPG tidak hanya memberikan manfaat gizi bagi santri dan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan ekonomi bagi pesantren dan warga melalui pelibatan koperasi dan pelaku usaha lokal,” tambahnya.
Peluncuran dapur SPPG ini merupakan hasil kerja sama antara Kemenko PMK, Badan Gizi Nasional, Pusat Investasi Pemerintah (PIP), koperasi, dan BMT NU. Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi atas permasalahan gizi, tetapi juga sebagai model penguatan ekonomi berbasis komunitas pesantren yang berkelanjutan.
Peduli Kebersihan, Barisan Santri Milenial Sumenep Bersihkan Sampah Lokasi Sholawat Paslon Faham
Pojok Berkah TP PKK Provinsi Jambi: Hesti Haris Tegaskan Komitmen Berbagi dan Menguatkan Nilai Kepedulian Sosial
PR Nusa Kencana Diduga Tebus Pita Tanpa Produksi Rokok, Bea Cukai Madura Pilih Tutup Mata